
Jakarta -
Partai Demokrat (PD) menyebut Waketum Gerindra Arief Poyuono bukan orang penting. Membalas pernyataan PD, Poyuono mengatakan dirinya lah yang membatalkan dipilihnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo Subianto.
"Tahu
apa kader Demokrat tentang saya di Gerindra. Wong AHY saja bisa saya
check out dari cawapresnya Prabowo kok," ujar Poyuono kepada detikcom,
Senin (13/5/2019).
Nama AHY
memang sempat masuk bursa cawapres Prabowo, meski akhirnya Sandiaga Uno
lah yang terpilih sebagai pasangan Ketum Gerindra itu di Pilpres 2019.
Poyuono pun kembali menyerang Demokrat.Poyuono disebut bukan orang penting di partainya. Untuk itu Demokrat
mengaku tak mau terlalu mendengarkan Poyuono yang 'mengusir' partai
pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dari koalisi Prabowo-Sandiaga.
"Lah
memang saya bukan orang penting di Gerindra. Memang kenapa kalau bukan
orang penting? Masalah bagi Demokrat? Saya cuma punya kepentingan
Prabowo-Sandi menang aja," kata Poyuono.
Demokrat pun menyoroti
soal Poyuono yang tak pernah ada di rumah pemenangan Prabowo-Sandiaga di
Rumah Kertanegara. Poyouno mengaku memang jarang datang ke kediaman
Prabowo yang dijadikan posko pemenangan tersebut.
"Jarang dong. Ngapain di Kertanegara terus. Kerja, kerja memenangkan Gerindra dan Prabowo-Sandi," ucapnya. Poyouno
kembali meminta Demokrat keluar dari Koalisi Indonesia Adil dan Makmur.
Pernyataanya ini sebagai balasan dari manuver Demokrat yang menyebut
ada setan gundul yang menyesatkan Prabowo terkait klaim kemenangan 62%.
"Makanya monggo Demokrat keluar dari Koalisi Adil Makmur segera," tegas Poyuono.
Sebelumnya
diberitakan, Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand
Hutahaean mengatakan Poyuono bukan orang penting' di Gerindra atau Badan
Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Ini lantaran Poyouno
disebut tak pernah ada di Rumah Kertanegara.
"Kami juga tahu ya,
Arief ya gitu-gitu, karena saya tidak pernah melihat Arief di
Kertanegara (rumah Prabowo) selama proses pemilu sebagai elite Gerindra
yang memperjuangkan Prabowo. Jadi saya rasa dia bukan siapa-siapa di
sana," ungkap Ferdinand.
"Untung aja Demokrat nggak jadi gelandangan di Pilpres 2019
alias diterima untuk mengusung capres-cawapres. Kalau nggak, jadi
gelandangan kayak Aswatama di Bharatayudha pada tahun 2024 alias nggak
boleh ikut pemilu," tuturnya.
0 komentar:
Posting Komentar